Akhir
Deritaku di Benteng Kuto Besak
Malam hari, di kamar yang sepi
terlihat seorang gadis sedang tertidur pulas setelah ia melaksanakan sholat
tahajud, tentu saja itu aku. Namaku Farah, usiaku baru genap 14 tahun dan aku
punya saudara kembar namanya Faras. Aku sangat usil pada Faras meskipun ia
kakakku, tapi itulah yang membuat orang yang berada di sekitar kami merasa
senang dan menyayangi kami.
Pagi pun tiba…
“Krrriiiiinnggg” jam weker
berdering.
Aku terbangun dan bergegas menuju
kamar mandi, namun tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Eh iya, hari ini Ayah kan ulang tahun” ujarku
dengan wajah ceria seraya menatap cermin di samping kamar mandi, kemudian aku
segera masuk dan mandi.
“Farah... buruan donk! aku nggak mau telat lagi” teriak
Faras yang sudah siap.
“Iya bentar lagi kok” sahutkuku.
Tak lama kemudian aku keluar dari
kamar dengan jilbab putihku yang terlihat sangat rapih.
“Pagi Faras” sapaku pada Saudara
tunggalku.
“Pagi” jawabnya singkat.
Faras adalah kakakku, walaupun jarak usia kami
hanya dua menit. Faras seorang ketua OSIS di sekolah yang super sibuk. Karena
wajahnya yang tampan, Faras menjadi incaran setiap wanita di sekolah tapi Ia
tidak pernah peduli.
“Pagi semua” sapa Ayah pada kami.
“Pagi Ayah” jawab Faras.
“Ayah… happy birthday ya?” ucapku
pada Ayah dan mencium pipinya.
“Idih, emang sekarang tanggal berapa” sindir
Faras.
“Farah, Ayah ulang tahunnya masih
sebulan lagi kok” jelas Ayah.
Aku pun tersipu malu dan Faras
tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang memerah bagikan buah delima yang
siap dimakan, kemudian kami segera sarapan. Tiba-tiba sekilas wajah Bunda terlintas
dalam pikiranku, “Coba kalau Bunda juga ada” gumamku.
Sejak kecil aku dan Faras tidak
pernah merasakan kasih sayang seorang Bunda. Bunda meninggal saat kami berusia
satu tahun, kerena penyakit kanker rahim yang Bunda derita setelah melahirkan
kami.
“Maaf tuan, di depan ada temennya
Mas Faras, namanya Mas Riki,
katanya mau ngajak berangkat bareng” kata bi Inah dengan suara halus.
“Ya udah bi, suruh dia tunggu
sebentar. Ayah, Faras berangkatnya bareng Riki aja” pinta Faras pada Ayah.
Setelah Faras pergi, tak lama
kemudian mobil jemputanku sudah ada di depan rumah. Karena Faras pergi bersama
temanya, terpaksa aku harus pergi sendirian.
“Ayah, mobilnya udah datang, Farah
berangkat dulu ya, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, hati-hati ya!”
Namun tiba-tiba terdengar suara yang
keras, ternyata aku terjatuh karena tertabrak patung kayu yang ada di samping
pintu. Rasa sakit yang aku tahan membuat Ayah semakin khawatir dan berlari menghampiriku.
“Farah nggak apa-apa kan?” tanya Ayah
“Nggak Ayah, Farah nggak apa-apa
kok! Cuma pusing aja” jelasku pada Ayah seraya menahan rasa sakit di dahiku
yang membiru.
“Farah berangkat ya?” sekali lagi
aku pamit pada Ayah.
“Bener? Ya sudah lebih hati-hati ya
sayang…” jawab Ayah tidak yakin.
***
Tiba di sekolah aku segera menemui
sahabat terbaikku. Sejak kecil kami telah bersahabat, suka dan duka kami lalui
bersama.
“Shila…” panggilku pada Shila yang
berada di depan kantor.
“Loh, udah siang gini kok kamu baru dateng?
Kemana aja? Bentar deh, dahi kamu kenapa? Kok biru gitu” tanya Shila heran.
“Kamu itu nanya atau nyerang aku
sih” jawabku dingin.
Kemudian aku menceritakan musibah
yang menimpaku tadi pagi.
“Bye
the way kamu udah ngerjain tugas fisika belum? Aku sih udah, cuma nomor 3 aja
yang belum” tanyaku.
“Nomor 3 aku juga belum tuh. Nomor yang
lainnya aja belum, alias aku belum ngerjain semuanya” jawab Shila tertawa.
“Capek deh. Eh ya Shil, pulang
sekolah ntar kamu temenin aku ke toko buku ya? Di daerah Talang Semut yang di
depan Kambang Iwak, mau ya?” ajakku.
“Aku sih mau aja, tapi aku nggak
bisa soalnya aku harus jaga rumah. Maaf ya?” tolak Shila secara halus.
“Ya udah nggak apa kok, aku pergi
sendiri aja” jelasku.
“Eh Ra, itu Faras kan? Gile… dia cakep banget…” puji Shila.
“Iya dong, liat aja kembarannya,
cantik gini” jawabku dengan bangga.
Kemudian Faras mengahampiri kami,
sepertinya dia tahu kalau dirinya sedang dibicarakan. Shila yang tersipu malu
merasa kalau Faras akan menghampirinya.
“Hai Faras” sapa Shila centil.
“Hai Shil. Eh Ra, kamu pulang sekolah
jangan kemana-mana ya, soalnya aku ada rapat OSIS nggak enak kalo nggak dateng.
Ya?” pinta Faras memelas.
“Enak aja, aku mau ke toko buku”
jawabku singkat.
“Tapi…, ya udah deh rapatnya aku
tunda aja, demi saudaraku tercinta” sindir Faras yang kemudian pergi.
“Kamu enak ya, punya saudara sebaik
dia, mana cakep lagi” ujar Shila iri.
Mendengar kalimat itu aku segera
pergi meninggalkan Shila sendirian dan langsung masuk ke kelas. Tanpa membuang
waktu lagi, aku segera menyelesaikan tugas fisikaku. Kemudian Shila datang dan
ikut menyelesaikan tugasnya. Namun tiba-tiba pak Ihsan datang, pelajaran
pertama adalah pelajaran sejarah.
“Selamat pagi anak-anak” sapa pak
Ihsan.
“Pagi pak” jawab seluruh anak-anak
dengan suara keras.
Pak ihsan pun langsung menjelaskan materi
hari ini. Saat jam istirahat ternyata para Guru akan mengadakan rapat hingga
seluruh siswa di perbolehkan pulang. Begitu juga denganku, setelah sekolah sepi
aku segera berangkat ke toko buku untuk menambah daftar buku koleksiku. Saat
aku ingin menyeberang menuju halte bus di depan sekolah, kepalaku kembali tarasa
pusing, namun aku tetap mencoba menyeberang. Tiba-tiba terlihat mobil pick-up
yang melaju dengan kencang, aku terserempet mobil itu tapi sopir mobil itu
langsung lari tanpa memperdulikanku. Untungnya aku tidak terluka parah.
***
Keesokan harinya, di kelas yang
sunyi itu anak-anak terlihat sangat serius mendengarkan penjelasan dari pak
Nagib, namun tiba-tiba ada seorang siswa datang ke kelasku.
“Permisi pak, Keiza Farah Hermawan ditunggu bu
Rahma di ruang kepala sekolah. Makasih pak , permisi” dan ia pun langsung
pergi.
Panggilan singkat yang disampaikan kepadaku
membuat perasaanku semakin kacau, setelah kejadian yang kualami beberapa hari
ini. Kemudian aku pun bergegas menuju ruang kepala sekolah untuk menemui ibu
Rahma. Ruang kepala sekolah memang berada di tempat yang berbeda dan
menggunakan tangga khusus.
Ketika aku sedang menaiki tangga
menuju lantai atas tiba-tiba kepalaku terasa pusing, aku terpeleset dan
terjatuh dari tangga dengan tubuh terguling-guling hingga kepalaku berkali-kali
terbentur tangga dan akhirnya menabrak tiang pembatas, seketika darah memancar
deras dari kepalaku.
“Tolong…tolong…tolongin aku…!”
pintaku seraya menahan rasa sakit.
Tapi saat itu keadaaan di sekitar
sangat sepi, karena letak tangga yang cukup jauh dari ruang kelas hingga jarang
orang yang melewati tempat itu kecuali ada urusan penting dengan kepala
sekolah.
“Tolooong…aku udah nggak kuat, to…”
pintaku sekali lagi namun tiba-tiba aku pingsan.
“Farah kenapa lama sekali ya?” tanya
bu Rahma heran.
Karena kesal terlalu lama
menungguku, bu Rahma pun segera menyusul. Ketika bu Rahma turun, ia kesal
karena melihat minyak bercampur darah yang berceceran, namun tubuh bu Ramah tiba-tiba
terlihat kaku, ia melihat aku yang sudah tergolek pingsan.
“Ya Allah, Farah kamu kenapa?” bu Rahma langsung panik.
Kemudian aku segera di larikan ke
rumah sakit terdekat menggunakan kendaraan milik bu Rahma.
***
Sesampainya di rumah sakit aku
langsung di bawa ke ruang UGD. Dalam waktu singkat Ayah sudah tiba di rumah
sakit bersama Faras. Akibat kecelakaan itu sakarang aku dalam kondisi kritis
dan koma.
Sudah empat hari aku dalam keadaan
koma. Faras yang tak pernah meninggalkan aku walaupun mukannya terlihat sangat
pucat. Ia merasa bersalah atas kecelakaan ini, ia pikir tak seharusnya ia
membiarkanku pergi sendirian. Karena aku belum juga sadar, dokter memutuskan
untuk me-rontgen tubuhku. Dan kebetulan dokternya adalah teman dekat Ayah,
dokter Roy, maka Ayah mempercayai semuanya pada
dokter Roy.
Rontgen pun segera dilaksanakan.
Esok pagi, di kamar inapku dokter
menjelaskan hasil rontgen yang dilaksanakan kemarin.
“Her, ini hasil rontgen yang udah
kita lakukan kemarin, saya jelaskan sekarang saja sebelum Farah sadar, sebab
kalo dia tahu itu sangat berbahaya untuknya” kata dokter Roy pada Ayah.
“Oke” jawab Ayah singkat seraya
melihat keadaanku yang memprihatinkan.
Saat itu Shila juga berada di
sampingku menanti aku sadar dari tidur panjangku yang sudah cukup lama.
Tiba-tiba mataku terbuka, aku pun sadarkan diri, Shila dan Faras sangat senang
melihat perkembanganku. Mereka ingin segera memanggil dokter namun aku mencegahnya,
karena aku melihat dokter yang sedang berbicara serius dengan Ayah tentang kondisiku,
dan mereka pun memilih diam.
“Her, setelah saya teliti ternyata
Farah mengidam penyakit sirosis atau kanker hati, itu udah mencapai stadium
lanjut” jelas dokter Roy.
“Ya Allah… yang bener Roy” ucap Ayah
tidak percaya.
“Saya serius Hermawan, saya ini
seorang dokter” suara dokter Roy
meninggi. “Dan waktu untuk Farah udah nggak banyak lagi, dari hasil ini Farah
paling lama bertahan hanya 15 hari lagi, kalau lebih pun itu mukjizat tuhan. Penyakit
ini sebenarnya sudah lama di derita Farah, tapi kamu nggak pernah perhatian
sama dia. Maafin saya Her” tambah dokter Roy.
“Memang, Istri saya meninggal juga
karena penyakit sialan ini. Sebetulnya beberapa minggu ini Farah sering terlihat
aneh, mulai dari hidungnya yang sering keluar darah, sering muntah darah, ia
juga sering menabrak benda yang jelas-jelas ada dihadapannya dan banyak lagi.
Tapi saya tak pernah terpikir sejauh ini Roy”
Ayah bersandar di dinding dengan pasrah.
Shila dan Faras yang ada di
sampingku termangu, mereka terkejut tidak percaya dan tanpa terasa air mata
sudah membasahi pipi shila. Aku sendiri tak percaya, seakan semua ini hanyalah
mimpi buruk kerena aku tidak membaca doa sebelum tidur. Saat aku yakin semua
ini benar, aku langsung bangun dari dari tempat tidur, kemudian melepaskan
infus yang masih melekat di pergelangan tanganku lalu aku berlari, dengan
segera Faras dan Shila menahanku namun karena pikiranku kacau hingga aku bisa
mengumpulkan tenaga dan melepaskan tubuhku. Melihat aku tiba-tiba sadar dan
pergi, dokter dan Ayah segera berlari mengejarku.
“Farah belum belum mau mati… Farah
masih mau hidup…” teriakku seraya menangis dan berlari tanpa arah.
Setelah melewati koridor rumah sakit
tiba-tiba aku berhenti di depan sebuah ruangan tepat di ujung koridor, aku
yakin itu ruang operasi. Saat itu aku melihat seorang dokter yang gagal
menyelamatkan pasiennya, aku juga melihat keluarga pasien yang menangis
mendengar berita duka itu.
“Suatu saat kejadian ini bakal
terjadi pada diriku, keluargaku juga bakal menangisi kepergianku yang hanya
menghitung hari saja” ujarku dalam hati.
“Farah belum mau mati Ayah…”
teriakku sambil memeluk Ayah.
“Tenang Farah, Ayah di sini!” Ayah
mencoba menenangkanku.
Kemudian aku dibawa ke kamar. Tiba
dikamar pandangaku terpusat pada seorang gadis kecil yanga sedang asyik bermain
dengan Ayahnya di samping kamar rawatku.
“Aku belum mau mati…Aku masih ingin
hidup…” ucapku lagi dengan suara berbisik.
***
Selama tiga hari dirawat, kondisiku sedikit
membaik. Aku pun diperbolehkan pulang ke rumah. Ketika sampai di rumah, semua
keluarga dan temen-temannku telah menantiku, namun tak ada satu pun dari mereka
yang mengetahui kondisi tubuhku yang sebenarnya, aku tidak mau menambah beban
orang lain.
Berhari-hari aku mengurung diri di
kamar. Helai demi helai rambutku pun mulai rontok. Suatu hari Ayah jatuh sakit,
aku diminta Faras menemui Ayah, namun aku menolak dan tetap tidak keluar kamar.
“Farah Ayah sakit, dia kangen sama
kamu, udah empat hari kamu nggak keluar kamar. Kamu juga belum makan, sekarang
keluar ya…!” bujuk Faras.
“Nggak mau, biar aku mati disini
aja!” jawabku.
“Astaghfirullah Farah, umur orang
itu Allah yang mengatur bukannya dokter. Kamu jangan percaya omongan dokter Roy” jelas Faras.
“Kenapa sih, kamu masih peduli sama
orang penyakitan yang udah mau mati kayak aku, Ras?” ujarku.
“Karena kamu adikku, Farah, adik
yang sangat aku sayangi. Aku juga nggak mau kamu menderita kayak ini, kalo bisa
biar aku yang gantiin kamu. Aku siap dan aku rela” Jawab Faras seraya menahan
air matanya yang membendung.
Aku terdiam, akhirnya aku sadar dan
mau keluar kamar, namun kondisiku tak seperti dulu, sekarang tubuhku terlihat
lebih kurus, rambutku sudah hampir botak karena terlalu sering rontok dan wajahku
pun sangat pucat. Aku segera minta maaf pada Ayah dan berjanji akan menjalani
semuanya dengan tegar.
Keesokkan harinya, seperti biasa aku mengikuti
kemoterapi untuk memperlambat penyakit kanker-ku menjalar ke seluruh tubuh.
Hidupku tak bisa lepas dari obat-obatan yang harus selalu aku minum. Aku tak
mengerti, sudah berapa ratus juta uang yang Ayah keluarkan demi kesembuhanku.
Malam itu, setelah aku pulang melakukan kemoterapi aku diminta Ayah segera
istirahat, namun saat aku ingin menemui bi Inah, aku tidak sengaja mendengar
percakapan Ayah dan Faras.
“Ras, Ayah nggak tahu lagi harus bayar pengobatan
Farah pake apa. Uang Ayah sudah hampir habis” ujar Ayah.
“Iya Ayah, aku ngerti. Kita harus lebih sabar
menghadapi ujian Allah, tapi uangku juga udah nggak cukup lagi buat menutupi
semua ini, apa aku perlu cari kerja?” jawab Faras.
“Nggak perlu kok, kamu masih terlalu kecil. Biar
Ayah aja. Eh iya, apa uang di tabunganmu masih sisa?” tanya Ayah.
“Ayah, uang yang tempo hari aku kasih itu uang
dari tabunganku. Sekarang aja uangnya hampir habis” jelas Faras.
“Jadi kita harus gimana? Kasihan Farah, dia kan masih kecil harus
menderita seperti ini” Ayah tambah bingung.
Melihat pengorbanan Ayah dan Faras
aku merasa bangga tapi di satu sisi aku merasa bersalah, tak seharusnya aku
menambah beban Ayah. Sekarang aku bertekad akan berusaha untuk sembuh walaupun
itu hanya impian belaka.
Esok harinya aku memilih untuk
sekolah. Tiba di sekolah, semua anak-anak merasa terganggu dengan kehadiranku, aku
tak mengerti kenapa. Untungnya Shila selalu membelaku.
Hari ini aku kembali mengikuti
kemoterapi, saat Ayah terlihat bingung memeikirkan uang administrasi tiba-tiba
ada seorang dermawan yang ikhlas membantu keluargaku membiayai pengobatanku.
Dengan begitu, aku bisa tetap melanjutkan kemoterapi ini.
Pagi ini aku mencoba melihat kalender ternyata
ini hari ke sepuluh setelah aku divonis kanker hati, namun keadaanku tetap
stabil. Tiga hari kemudian. Seperti biasa aku tetap pergi sekolah walaupun
wajahku terlihat semakin pucat. Saat aku tiba di kelas, bel pun berbunyi, jam
pertama hari ini adalah Matematika.
Setelah membahas materi, bu Tik-tik
menagih tugas anak-anak yang ia berikan satu minggu yang lalu, aku bingung, aku
tidak mengerjakan tugas itu karena aku tidak masuk. Dengan alasan tidak masuk,
aku santai mengakuinya pada ibu Tik-tik, seorang guru Matematika yang terkenal
berwajah angker dan sulit memaafkan bagi siapapun yang melanggar perintahnya.
Namun tetap aku mendapat hukuman.
“Cepat kamu keluar dan hormat pada
bendera hingga tiba waktu pulang nanti” perintah Bu Tik-tik.
Aku segera keluar menjalankan
hukumanku. Keringat yang bercucuran membuat basah bajuku, sudah dua jam aku
dihukum tapi waktu pulang masih lama. Sebelum dihukum kondisiku baik-baik saja,
tapi karena terlalu lama dijemur tiba-tiba kepalaku terasa pusing, wajahku
memerah, hidungku keluar darah, dan seketika aku pingsan.
Beberapa menit kemudian bel berbunyi
tandanya istirahat. Shila pun bergegas keluar, saat melihatku ia sangat panik
dan kebingungan. Setelah dibantu oleh beberapa temanku, aku dibawa ke ruang
UKS, dengan cepat Shila segera menelpon Ayahku. Karena peralatan UKS kurang
memedai akhirnya aku segera dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil ambulance. Dalam
mobil itu aku ditemani Shila dan beberapa suster, sedangkan Ayah menunggu di
rumah sakit.
***
Saat perjalanan menuju rumah sakit
aku dibantu dengan alat bantu pernapasan hingga akhirnya aku pun sadar, namun
kondisiku semakin memburuk. Tak henti darah mengalir dari hidungku dan aku
selalu muntah darah. Karena kondisiku ini, mobil yang membawaku pun melaju
sangat kencang tapi tuhan berkehendak lain, mobil kami terjebak macet panjang
karena terjadi kecelakaan hingga kami harus menunggu.
Sudah terlalu lama kami menunggu dan
kondisiku semakin memburuk, wajahku pucat, tubuhku terasa dingin. Aku putus
asa, aku capek, aku lelah memperjuangakan kehidupanku yang aku yakin akan
sia-sia. Saat ini aku merasa waktuku hanya beberapa menit lagi. Aku mencoba membersihkan darah yang berceceran diwajahku lalu
aku mencoba duduk namun Shila selalu mencegahku.
“Shila, ini ada dimana?” tanyaku
pada Shila dengan suara terbata-bata.
“Kita baru nyampe di jembatan Ampera,
kita terjebak macet” jawab Shila.
Rasa sakit ini tak bisa aku
sembunyikan lagi, aku menangis, menjerit kesakitan. Aku mencoba bertahan tapi
aku sudah tak sanggup lagi, aku meremas baju Shila. Shila terlihat sangat
kebingungan, tak tahu apa yang harus ia lakukan namun ia mencoba menutupinya.
Kemudian aku meminta Shila membawaku
keluar dari mobil menuju Benteng Kuto Besak tepat di bawah jembatan Ampera.
Awalnya Shila menolak, Shila takut terjadi sesuatu namun aku terus dan terus
memaksanya. Dengan izin suster, akhirnya aku dibawa menggunakan kursi roda,
namun Shila tak pernah melepaskan genggamannya dari tanganku.
“Shila, tolong kamu bilang sama
semuanya kalo aku minta maaf, aku kan
suka usil sama mereka. Bilang juga kalo sebenernya aku sayang sama mereka. Ya
Allah… Farah sayang sama Ayah dan Faras, tolong lindungi mereka. Shil, aku
seneng banget kamu mau bawa aku kesini. Akhir deritaku di Benteng Kuto Besak,
lucu ya !” dengan suara terbata-bata, aku mencoba mengurangi kecemasan Shila.
Setelah aku tersenyum lebar, aku
segera memeluk Shila seraya mengucap janji akan selalu bersamanya selamanya.
Namun, tak lama kemudian nyawaku terbang menghadap sang Khalik bersama semua
penderitaanku. Aku telah pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan semua
kenangan dan semua orang yang aku cintai dan mencintaiku.
Saat Shila melepaskanku dari
pelukkannya, ia melihat tubuhku lemas dan sudah tidak bernapas lagi. Shila
terus memanggilku, memukul pipiku hingga ia sadar aku sudah pergi.
“Faraaaaaaaaaaah !!!” teriak Shila
melepas kepergianku.
***
Ternyata benar kata Faras, umur
orang hanya Allah yang tahu. Seperti umurku, diagnosa dokter aku hanya bisa
bertahan lima
belas hari, tapi kenyataannya aku hanya bertahan tiga belas hari. Jauh dari
perkiraan dokter Roy.
Setelah proses pemakamanku selesai,
semua orang meninggalkan makamku. Lewat Faras, Shila mendapat peninggalan
terakhirku. Sebuah kotak yana berisi barang-barang kesayanganku dan sebuah buku
berisi kata-kata terakhirku. Shila membuka lembaran demi lembaran dan terus
dibacanya, tiba-tiba Shila menemukan tulisan jelek yang sepertinya tulisan itu
ditujukan untuk Tuhan.
Dear God,
Ya Allah… terima kasih karena aku sudah
diizinkan hidup di dunia walaupun hanya sebentar.
Ya Allah… mengapa takdirku sungguh menyedihkan,
segala yang aku impikan kandas hanya karena penyakit ini.
Ya Allah… kelak saat aku pergi, aku minta semua
orang tak ada yang melepas kepergianku dengan tangis.
Ya Allah… kelak saat aku pergi, aku mohon Engkau
menjaga sahabat dan keluargaku, mereka yang sangat aku sayangi.
Ya Allah… Engkau maha mengetahui, kabulkanlah
pintaku ya Rabbi…
Air mata Shila
mengalir deras membasahi kertas yang bertuliskan sejuta harapanku, hingga ia
tak sadar malam telah menggantikan siang.
“Ya Allah… aku nggak tau, apa aku
sanggup meneruskan hidupku dengan separuh nyawaku yang ikut melayang bersama Farah.
Ya Allah… kabulkanlah semua harapan dan doa Farah, dan terimalah sahabat
terbaikku di surga-Mu. Amin” pinta Shila sebelum ia berkelana menuju mimpinya.
“Selamat
tinggal sahabatku….” Ucapnya sambil menutup matanya.
Hidup memang tidak selalu mulus, tidak seperti yang kita
harapkan. Tapi yang namanya cinta berbalut kasih sayang dan dibungkus dengan
kesetiaan akan selalu terasa meski kita telah berada di tempat yang berbeda
karena cinta adalah milik dan hak setiap orang tanpa pengecualian. Aku akan
selalu tetap menjadi sahabat bagi Shila sampai kapanpun juga.
****
Sinopsis
: Akhir Deritaku di Benteng Kuto Besak
Bagiku sahabat adalah tampat
berbagi, hanya bersamanya aku bisa merasa nyaman. Aku dan dia bersahabat sejak
kecil, mulai dari belajar berjalan hingga belajar naik sepeda. Persahabatan
kami terkadang dikotori dengan pertengkaran, namun sesegera mungkin kami
membersihkanya hingga bersih kembali.
Keiza Farah Hermawan itulah namaku,
tapi a
ku lebih sering dipanggil Farah dan sahabatku bernama Shila Azahra. Tak
hanya sahabat yang menyempurnakan hidupku, dengan kehadiran saudara yang kembar
denganku, hidupku semakin sempurna, ia bernama Kiesha Faras Hermawan.
Tapi kini kesempurnaan itu telah
hilang, ketika penyakit sirosis menyerang tubuhku. Penyakit yang belum ada
obatnya. Saat pertama kali aku di vonis penyakit ini, aku merasa dengan sisa
hidupku ini aku sudah tidak ada gunanya lagi, semua impian dan cita-citaku
kandas, hancur bersama organ tubuhku yang semakin lama kurang berfungsi lagi.
Kata dokter Roy
hanya mukjizat yang dapat menolongku.
Tak ada lagi keceriaan, tak ada lagi
kegembiraan. Gelak tawa, riang canda kini tak lagi menyapa hari-hariku, namun
senyumanku tak pernah hilang dari wajah manisku. Penderitaanku tak hanya itu
saja, di tengah proses pengobatanku tiba-tiba Ayah kekurangan dana untuk pengobatanku.
Saat semua kebingungan, tiba-tiba datang seorang dermawan yang ikhlas membantu
keluargaku membiayai pengobatanku, dengan begitu aku tak perlu lagi memikirkan
soal dana.
Hingga akhirnya aku mulai putus asa
memperjuangkan kehidupanku, karena aku yakin akan sia-sia. Aku tak sanggup lagi
menahan semua ini, aku meminta sahabatku membawaku ke tempat yang sangat aku
sukai yaitu Benteng Kuto Besak. Dengan senyuman dan dalam pelukan hangat dari
sahabatku, aku pergi menghadap sang Khalik untuk selama-lamanya, menyisakan
sejuta kenangan dan meninggalkan orang-orang yang kucintai dan mencintaiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar